Jumat, 11 April 2014

dak pacak nolongi, dak nyusahke jadilah



Dunia ini luas hingga tak ada batas, ketika kita berada di Selatan kita tidak tahu ujung Utara. Ketika kita berada di Timur kita tidak tahu ujung Barat. Karena itu keberadaan diri kita sangat jauh lebih kecil dibanding luasnya dunia. Apakah kau akan tetap akan menyombongkan diri ?

Sebuah pertanyaan untuk anda yang membaca ini. Apakah anda akan selalu hidup bersama orang tua, keluarga, dan kerabat hingga nafas terakhir anda ??...................

Satu hal yang tidak diketahui oleh mahkluk apapun termasuk manusia dan hal itu disebut sebagai rahasia Ilahi yaitu maut. Kita tidak tahu kapan ajal kita datang. Ada orang mati ketika tidur, ada orang mati ketika bekerja, ada orang mati akibat kecelakaan, ada orang mati ketika sujud, dan ada  juga orang mati ketika berbuat maksiat. Semua itu terjadi tidak terduga.

Seandainya, dari lahir kita hidup selalu bersama orang tua, dan semuanya tergantung dari orang tua. Misalnya makan dimasakkan terus disuapi, pakaian dicucikan terus disetrika, tidurpun ditidurkan terus dibangunkan. Hal-hal demikian terus berlangsung sejak anda lahir hingga umur anda sekarang ini. Dan karena kita tidak tahu ajal datangnya kapan, tak diduga keduga kedua orang tua kita meninggal bersamaan akibat kecelakaan. Bagaimanakah kelangsungan hidup anda yang semuanya terrgantung pada orang tua ?

Dan masih beruntung dan bersyukur bagi anda yang masih punya keluarga atau kerabat. Anda masih bisa berlindung dan meminta bantuan dari mereka. Dan seandainya, keluarga atau kerabat anda tinggalnya jauh dari anda atau bahkan tidak punya sanak keluarga sama sekali. Bagaimana kehidupan anda ?

Iya, pada postingan ini saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman hidup. Ya walaupun sedikit tapi tidak apa-apa dibandingkan tidak sama sekali, yang penting bisa memotivasi dan bermanfaat. Setuju !!!.

Saya lahir di sebuah desa terpencil sebagai anak sulung dari sebuah keluarga sederhana. Walaupun saya hanya dua bersaudara tetapi saya tidak merasakan dimanjakan oleh orang tua secara tampak jelas. Meskipun disamping itu tentulah ada rasa kasih sayang.

Sedikit membuka diri, kalau anda mau tahu bahwa masakkan kesukaan saya adalah ikan teri goreng beserta bawang goreng yang kemudian diberi kecap asin. Dalam hal ini, bukan berarti tidak mampu untuk membeli sayur dan daging tapi inilah bentuk didikan dari orang tua saya. Ibu saya pernah bilang, kalau kau suka masakkan tidak enak kata orang tentu kau suka masakkan enak kata orang tapi kalau kau suka masakkan enak kata orang, apakah kau suka juga masakkan tidak enak kata orang ?  Dan hal ini ternyata terbukti ketika saya telah bersekolah. Karena SD dan SMP saya tinggal dengan nenek dan kakek sedangkan SMA dan kuliah saya tinggal ngontrak disebuah kota metropolitan. Jadi, ketika uang saku tidak cukup beli sayur, ya saya tinggal masak. Coba kalau seandainya saya tidak diajarkan masak dan makan makanan tersebut. Apakah saya tidak akan makan sebelum uang saku cukup untuk beli sayur ?  Jelas tidakkan.

Untuk masalah makan sudah aman, nah selanjutnya untuk masalah pakaian. Waktu SD yang mencuci pakaian saya adalah nenek tapi ketika saya SMP yang mencuci pakaian saya adalah bibik karena nenek meninggal ketika saya kelas enam. Oke, aman-aman saja ketika SD dan SMP. Ketika SMA tak ada yang mencuci pakaian karena saya ngontrak dikota dan jauh dari keluarga. Saya sempat frustasi karena pakaian karena saya tidak bisa mencuci dan ada satu pilihan yaitu loundry. Tapi saya berpikir bahwa harus sampai kapan saya terus laundry pakaian.    

Dan akhirnya saya memutuskan untuk mencuci sendiri karena uang laundry mending saya tabung. Dan sekalian juga belajari bagaimana rasanya nenek dan bibi mencuci pakaian saya. Untuk masalah mencuci aman-aman saja, tapi masalah menggosok pakaian, saya pernah gosong pakaian sekolah, baju koko, dan kemeja. Ya yang namanya seumur hidup tak pernah menggosok pakaian, seperti itulah dampaknya.

Hemm, ternyata hidup jauh dari orang tua itu keras.

Kalau SD dan SMP masalah uang saku tinggal minta saja setiap harinya, jadi kalau habis minta dan minta lagi sampai dimarahi baru berhenti. Tetapi setelah SMA semua uang saku diberikan semuanya. Saya juga sempat bingung. Uang sebanyak itu mau diapakan ? Dan kata orang tua saya uang itu jangan habis sebelum tanggal tertentu. Yah, jadi bagaimana ini ? setelah pikir-pikir berarti setiap  harinya saya hanya gunakan sejumlah tertentu agar tidak habis sebelum tanggal yang ditentukan. Dan yang sangat saya bingunngkan adalah walaupun semua uang saku saya yang pegang tapi saya bisa nabung dibanding waktu SD dan SMP dulu yang tak pernah ada tabungan.

Yeah, mungkin itu saja pengalaman yang bisa saya ceritakan dan masih banyak lagi pengalaman yang lain. Nah, kebanyakan orang bilang bahwa anak yang jauh dari orang tuanya pasti anaknya tidak bener. Tapi buktinya justru malah lebih baik contohnya kalau bersama keluarga atau orang tua si anak tidak bisa masak, tidak bisa mencuci. Tidak bisa mengatur finansial karena semuanya dilakukan oleh orang tua tapi dengan dengan jauh dari orang tua maka si anak beradaptasi yang seharusnya tidak bisa masak, mencuci dan lain-lain tapi setelah jauh dari orang tua ia bisa melakukan itu semua. Amazing !!!

Tapi, tantangan yang besar untuk si anak dan orang tua adalah lingkungan. Anak yang selalu tinggal bersama orang tua bisa saja pecandu narkoba, freeseks, dan pemabuk miras dan anak yang jauh dari orang tua bisa juga bukan pecandu narkoba, freeseks, dan pemabuk. Hal itu tergantung pada diri sii anak, sekuat apa imannya, sekokoh apa pendiriannya, setajam apa prinsipnya dan sedalam apa ilmu dan pengetahuannya serta kepercayaan orang tua terhadap anak dan amanah anak terhadap orang tua.

Oleh Karena itu, buat adik-adik jangan takut hidup jauh dari oran tua, jangan takut merantau di negeri orang. Semuanya akan baik-baik saja kalau tujuan kita juga baik. Percayalah itu. Justru kalau hidup jauh dari orang tua akan membentuk kepribadianmu yang sebenarnya. Dan bersyukurlah bagi kalian yang saat ini telah bisa merantau. Jagalah kepercayaan yang diberikan oleh orang tua. Mereka berharap besar darimu. Hidup itu pilihan. Mau yang baik atau yang buruk tergantung kehendakmu bukan kehendak Tuhan dan juga bukan kehendak orang lain. Dan Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum melainkan hanya mereka sendiri yang akan mengubah keadaan mereka. Suatu saat kita akan berpisah dari orang tua, keluarga dan kerabat dan apabila kita tidak memiliki bekal hidup, akan mau dikemanakan diri kita ?

Hidup itu memang keras. Butuh perjuangan. Pasti ada tetesan air mata bahkan tetesan darah sekalipun. Tapi kita bisa melewati itu semua dengan iman yang kuat, prinsip yang tegas, dan ilmu pengetahuan yang dalam. Tak ada manusia yang tak salah oleh karena itu kita harus mencoba untuk benar. Tak ada manusia yang tak punya masalah, karena kalau tidak pernah punya masalah  tentulah kita telah hidup disurga bukan didunia yang keras ini. 


Tidak bisa membantu, tidak merepotkan sudah cukup.












Minggu, 06 April 2014

Dibalik makna pesimis dihadapan makna optimis



Suatu waktu gue pernah ikut pertandingan olahraga silat. Jauh sebelum waktu pertandingan, kami sudah latihan dengan intensif.  Eh pas waktunya tiba, sikap optimis hilang seperti tertiup angin ketika lihat lawan yang performance-nya yang bikin bilang woaw, belum lagi lihat jumlah lawan yang lebih banyak dengan postur tubuh yang lebih super sehingga menambah menciutkan harapan. Dengan tampilan wajah tanpa harapan, pelatih cuma bilang “Optimis dong, tunjukkan jiwa satria kalian !!”. Hemm, kalo memandang kebelakang udah berapa banyak waktu digunakan untuk latihan, udah berapa banyak tenaga yang dikeluarkan, dan udah berapa banyak butiran keringat yang membasahi baju latihan. Dan yang paling diperhitungkan udah berapa kilo cucian loundry baju latihan ?... Tapi kalo memandang kedepan, lihatlah keadaannya seperti apa. 
Didalam diri telah muncul rasa pesimis gak akan memenangkan pertandingan tetapi teringat ucapan pelatih yang maknanya bersikap optimis.  Hemm, akhirnya gue waktu itu memilih opsi ketiga yaitu gue bukan cari medali tapi cari pengalaman  walaupun disamping itu harapan pelatih gue memperoleh medali. Ya udah, gue jalankan pilihan gue karena alasan gue hidup itu pilihan, yang harus kita pilih yang terbaik tuk jalan hidup sendiri. Dan akhirnya gue kalah dalam pertandingan ini dan gue biasa-biasa aja dengan kekalahan ini karena gue gak terlalu optimis menang karena gue udah tau lawan yang dihadapi seperti apa dan gue juga gak terlalu pesimis walaupun udah termasuk kategori pesimis karena gue udah berusaha semampunya. 
Satu catatan yang bisa diambil dari pengalaman ini, kita bersikap  optimis karena kita merasa persiapan kita telah matang bahkan terlalu matang tetapi belum termasuk ke fase busuk namun hasil yang diperoleh tak sesuai harapan. Tentunya pasti akan down, males mau latihan lagi, males juga mau ikut pertandingan lagi. Tapi jika bersikap pesimis kita udah punya gambaran bahwa pasti akan kalah. Dan hasilnya emang bener kalah. Dan kita sadar diri juga, kenapa gue bisa kalah ?.. Ya mungkin salah satu faktor penyebabnya latihannya kurang intensif dan berarti latihannya perlu ditingkatkan lagi. Dan dengan kekalahan ini mungkin timbul pertanyaan  kenapa gue gak bisa seperti dia ?? nah, dengan pertanyaan ini akan timbul juga tekad. Dan akhirnya latihan, latihan, dan latihan terus ikut pertandingan.
Jadi sikap pesimis itu gak selalu buruk kok contohnya ya dalam pengalaman ini. Coba seandainya bersikap optimis terus kalah dan pastinya mental akan down, jadi males mau latihan karena udah capek-capek latihan tapi hasilnya mengecewakan. Tetapi kalo bersikap pesimis dan hasilnya kalah tentunya didalam diri akan punya tekad suatu saat gue bisa menang dengan jalan meningkatkan latihannya.
Dan juga gak selalu bersikap optimis itu baik. Coba seandainya dalam pengalaman ini hasil pertandingannya menang tentunya didalam diri akan merasa bangga. Hal ini wajar-wajar aja. Dan dengan rasa banga ini memungkinkan akan melahirkan kesombongan karena pasti berpikir bahwa gue paling hebat dan gue paling jago. Dengan kesombongan ini, akhirnya males untuk latihan karena anggapan dia gak ada yang bisa ngalahkan gue. Tapi ingat dengan yang berisikap pesimis, ia punya tekad untuk menang makanya ia latihan dan latihan.
Jadi, jangan takut untuk bersikap pesimis karena orang optimis bisa dikalahkan oleh orang pesimis dengan catatan harus punya tekad. Dan tekad itu muncul dari niat yang ikhlas. “Man jadda wa jadda”. Tapi jangan selalu bersikap pesimis, dimana semangat hidup lo bro ???
Dan juga jangan selalu bersikap optimis, karena rasa optimis yang tinggi memungkinkan melahirkan kesombongan. Dan orang yang sombong adalah teman ..... *sensor
Hemm, mungkin itu aja yang bisa gue ceritain. Semoga bisa jadi sedikit motivasi, ya walaupun sedikit tapi gak apa-apa dibanding gak sama sekali. Setuju !!!