Jumat, 11 April 2014

dak pacak nolongi, dak nyusahke jadilah



Dunia ini luas hingga tak ada batas, ketika kita berada di Selatan kita tidak tahu ujung Utara. Ketika kita berada di Timur kita tidak tahu ujung Barat. Karena itu keberadaan diri kita sangat jauh lebih kecil dibanding luasnya dunia. Apakah kau akan tetap akan menyombongkan diri ?

Sebuah pertanyaan untuk anda yang membaca ini. Apakah anda akan selalu hidup bersama orang tua, keluarga, dan kerabat hingga nafas terakhir anda ??...................

Satu hal yang tidak diketahui oleh mahkluk apapun termasuk manusia dan hal itu disebut sebagai rahasia Ilahi yaitu maut. Kita tidak tahu kapan ajal kita datang. Ada orang mati ketika tidur, ada orang mati ketika bekerja, ada orang mati akibat kecelakaan, ada orang mati ketika sujud, dan ada  juga orang mati ketika berbuat maksiat. Semua itu terjadi tidak terduga.

Seandainya, dari lahir kita hidup selalu bersama orang tua, dan semuanya tergantung dari orang tua. Misalnya makan dimasakkan terus disuapi, pakaian dicucikan terus disetrika, tidurpun ditidurkan terus dibangunkan. Hal-hal demikian terus berlangsung sejak anda lahir hingga umur anda sekarang ini. Dan karena kita tidak tahu ajal datangnya kapan, tak diduga keduga kedua orang tua kita meninggal bersamaan akibat kecelakaan. Bagaimanakah kelangsungan hidup anda yang semuanya terrgantung pada orang tua ?

Dan masih beruntung dan bersyukur bagi anda yang masih punya keluarga atau kerabat. Anda masih bisa berlindung dan meminta bantuan dari mereka. Dan seandainya, keluarga atau kerabat anda tinggalnya jauh dari anda atau bahkan tidak punya sanak keluarga sama sekali. Bagaimana kehidupan anda ?

Iya, pada postingan ini saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman hidup. Ya walaupun sedikit tapi tidak apa-apa dibandingkan tidak sama sekali, yang penting bisa memotivasi dan bermanfaat. Setuju !!!.

Saya lahir di sebuah desa terpencil sebagai anak sulung dari sebuah keluarga sederhana. Walaupun saya hanya dua bersaudara tetapi saya tidak merasakan dimanjakan oleh orang tua secara tampak jelas. Meskipun disamping itu tentulah ada rasa kasih sayang.

Sedikit membuka diri, kalau anda mau tahu bahwa masakkan kesukaan saya adalah ikan teri goreng beserta bawang goreng yang kemudian diberi kecap asin. Dalam hal ini, bukan berarti tidak mampu untuk membeli sayur dan daging tapi inilah bentuk didikan dari orang tua saya. Ibu saya pernah bilang, kalau kau suka masakkan tidak enak kata orang tentu kau suka masakkan enak kata orang tapi kalau kau suka masakkan enak kata orang, apakah kau suka juga masakkan tidak enak kata orang ?  Dan hal ini ternyata terbukti ketika saya telah bersekolah. Karena SD dan SMP saya tinggal dengan nenek dan kakek sedangkan SMA dan kuliah saya tinggal ngontrak disebuah kota metropolitan. Jadi, ketika uang saku tidak cukup beli sayur, ya saya tinggal masak. Coba kalau seandainya saya tidak diajarkan masak dan makan makanan tersebut. Apakah saya tidak akan makan sebelum uang saku cukup untuk beli sayur ?  Jelas tidakkan.

Untuk masalah makan sudah aman, nah selanjutnya untuk masalah pakaian. Waktu SD yang mencuci pakaian saya adalah nenek tapi ketika saya SMP yang mencuci pakaian saya adalah bibik karena nenek meninggal ketika saya kelas enam. Oke, aman-aman saja ketika SD dan SMP. Ketika SMA tak ada yang mencuci pakaian karena saya ngontrak dikota dan jauh dari keluarga. Saya sempat frustasi karena pakaian karena saya tidak bisa mencuci dan ada satu pilihan yaitu loundry. Tapi saya berpikir bahwa harus sampai kapan saya terus laundry pakaian.    

Dan akhirnya saya memutuskan untuk mencuci sendiri karena uang laundry mending saya tabung. Dan sekalian juga belajari bagaimana rasanya nenek dan bibi mencuci pakaian saya. Untuk masalah mencuci aman-aman saja, tapi masalah menggosok pakaian, saya pernah gosong pakaian sekolah, baju koko, dan kemeja. Ya yang namanya seumur hidup tak pernah menggosok pakaian, seperti itulah dampaknya.

Hemm, ternyata hidup jauh dari orang tua itu keras.

Kalau SD dan SMP masalah uang saku tinggal minta saja setiap harinya, jadi kalau habis minta dan minta lagi sampai dimarahi baru berhenti. Tetapi setelah SMA semua uang saku diberikan semuanya. Saya juga sempat bingung. Uang sebanyak itu mau diapakan ? Dan kata orang tua saya uang itu jangan habis sebelum tanggal tertentu. Yah, jadi bagaimana ini ? setelah pikir-pikir berarti setiap  harinya saya hanya gunakan sejumlah tertentu agar tidak habis sebelum tanggal yang ditentukan. Dan yang sangat saya bingunngkan adalah walaupun semua uang saku saya yang pegang tapi saya bisa nabung dibanding waktu SD dan SMP dulu yang tak pernah ada tabungan.

Yeah, mungkin itu saja pengalaman yang bisa saya ceritakan dan masih banyak lagi pengalaman yang lain. Nah, kebanyakan orang bilang bahwa anak yang jauh dari orang tuanya pasti anaknya tidak bener. Tapi buktinya justru malah lebih baik contohnya kalau bersama keluarga atau orang tua si anak tidak bisa masak, tidak bisa mencuci. Tidak bisa mengatur finansial karena semuanya dilakukan oleh orang tua tapi dengan dengan jauh dari orang tua maka si anak beradaptasi yang seharusnya tidak bisa masak, mencuci dan lain-lain tapi setelah jauh dari orang tua ia bisa melakukan itu semua. Amazing !!!

Tapi, tantangan yang besar untuk si anak dan orang tua adalah lingkungan. Anak yang selalu tinggal bersama orang tua bisa saja pecandu narkoba, freeseks, dan pemabuk miras dan anak yang jauh dari orang tua bisa juga bukan pecandu narkoba, freeseks, dan pemabuk. Hal itu tergantung pada diri sii anak, sekuat apa imannya, sekokoh apa pendiriannya, setajam apa prinsipnya dan sedalam apa ilmu dan pengetahuannya serta kepercayaan orang tua terhadap anak dan amanah anak terhadap orang tua.

Oleh Karena itu, buat adik-adik jangan takut hidup jauh dari oran tua, jangan takut merantau di negeri orang. Semuanya akan baik-baik saja kalau tujuan kita juga baik. Percayalah itu. Justru kalau hidup jauh dari orang tua akan membentuk kepribadianmu yang sebenarnya. Dan bersyukurlah bagi kalian yang saat ini telah bisa merantau. Jagalah kepercayaan yang diberikan oleh orang tua. Mereka berharap besar darimu. Hidup itu pilihan. Mau yang baik atau yang buruk tergantung kehendakmu bukan kehendak Tuhan dan juga bukan kehendak orang lain. Dan Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum melainkan hanya mereka sendiri yang akan mengubah keadaan mereka. Suatu saat kita akan berpisah dari orang tua, keluarga dan kerabat dan apabila kita tidak memiliki bekal hidup, akan mau dikemanakan diri kita ?

Hidup itu memang keras. Butuh perjuangan. Pasti ada tetesan air mata bahkan tetesan darah sekalipun. Tapi kita bisa melewati itu semua dengan iman yang kuat, prinsip yang tegas, dan ilmu pengetahuan yang dalam. Tak ada manusia yang tak salah oleh karena itu kita harus mencoba untuk benar. Tak ada manusia yang tak punya masalah, karena kalau tidak pernah punya masalah  tentulah kita telah hidup disurga bukan didunia yang keras ini. 


Tidak bisa membantu, tidak merepotkan sudah cukup.












Minggu, 06 April 2014

Dibalik makna pesimis dihadapan makna optimis



Suatu waktu gue pernah ikut pertandingan olahraga silat. Jauh sebelum waktu pertandingan, kami sudah latihan dengan intensif.  Eh pas waktunya tiba, sikap optimis hilang seperti tertiup angin ketika lihat lawan yang performance-nya yang bikin bilang woaw, belum lagi lihat jumlah lawan yang lebih banyak dengan postur tubuh yang lebih super sehingga menambah menciutkan harapan. Dengan tampilan wajah tanpa harapan, pelatih cuma bilang “Optimis dong, tunjukkan jiwa satria kalian !!”. Hemm, kalo memandang kebelakang udah berapa banyak waktu digunakan untuk latihan, udah berapa banyak tenaga yang dikeluarkan, dan udah berapa banyak butiran keringat yang membasahi baju latihan. Dan yang paling diperhitungkan udah berapa kilo cucian loundry baju latihan ?... Tapi kalo memandang kedepan, lihatlah keadaannya seperti apa. 
Didalam diri telah muncul rasa pesimis gak akan memenangkan pertandingan tetapi teringat ucapan pelatih yang maknanya bersikap optimis.  Hemm, akhirnya gue waktu itu memilih opsi ketiga yaitu gue bukan cari medali tapi cari pengalaman  walaupun disamping itu harapan pelatih gue memperoleh medali. Ya udah, gue jalankan pilihan gue karena alasan gue hidup itu pilihan, yang harus kita pilih yang terbaik tuk jalan hidup sendiri. Dan akhirnya gue kalah dalam pertandingan ini dan gue biasa-biasa aja dengan kekalahan ini karena gue gak terlalu optimis menang karena gue udah tau lawan yang dihadapi seperti apa dan gue juga gak terlalu pesimis walaupun udah termasuk kategori pesimis karena gue udah berusaha semampunya. 
Satu catatan yang bisa diambil dari pengalaman ini, kita bersikap  optimis karena kita merasa persiapan kita telah matang bahkan terlalu matang tetapi belum termasuk ke fase busuk namun hasil yang diperoleh tak sesuai harapan. Tentunya pasti akan down, males mau latihan lagi, males juga mau ikut pertandingan lagi. Tapi jika bersikap pesimis kita udah punya gambaran bahwa pasti akan kalah. Dan hasilnya emang bener kalah. Dan kita sadar diri juga, kenapa gue bisa kalah ?.. Ya mungkin salah satu faktor penyebabnya latihannya kurang intensif dan berarti latihannya perlu ditingkatkan lagi. Dan dengan kekalahan ini mungkin timbul pertanyaan  kenapa gue gak bisa seperti dia ?? nah, dengan pertanyaan ini akan timbul juga tekad. Dan akhirnya latihan, latihan, dan latihan terus ikut pertandingan.
Jadi sikap pesimis itu gak selalu buruk kok contohnya ya dalam pengalaman ini. Coba seandainya bersikap optimis terus kalah dan pastinya mental akan down, jadi males mau latihan karena udah capek-capek latihan tapi hasilnya mengecewakan. Tetapi kalo bersikap pesimis dan hasilnya kalah tentunya didalam diri akan punya tekad suatu saat gue bisa menang dengan jalan meningkatkan latihannya.
Dan juga gak selalu bersikap optimis itu baik. Coba seandainya dalam pengalaman ini hasil pertandingannya menang tentunya didalam diri akan merasa bangga. Hal ini wajar-wajar aja. Dan dengan rasa banga ini memungkinkan akan melahirkan kesombongan karena pasti berpikir bahwa gue paling hebat dan gue paling jago. Dengan kesombongan ini, akhirnya males untuk latihan karena anggapan dia gak ada yang bisa ngalahkan gue. Tapi ingat dengan yang berisikap pesimis, ia punya tekad untuk menang makanya ia latihan dan latihan.
Jadi, jangan takut untuk bersikap pesimis karena orang optimis bisa dikalahkan oleh orang pesimis dengan catatan harus punya tekad. Dan tekad itu muncul dari niat yang ikhlas. “Man jadda wa jadda”. Tapi jangan selalu bersikap pesimis, dimana semangat hidup lo bro ???
Dan juga jangan selalu bersikap optimis, karena rasa optimis yang tinggi memungkinkan melahirkan kesombongan. Dan orang yang sombong adalah teman ..... *sensor
Hemm, mungkin itu aja yang bisa gue ceritain. Semoga bisa jadi sedikit motivasi, ya walaupun sedikit tapi gak apa-apa dibanding gak sama sekali. Setuju !!!













Minggu, 12 Mei 2013

Playfeelling#


Sejujurnya, sepanjang nafasku sampai detik ini baru kali ini aku merasakan suatu hal yang asing dalam hidupku. Menebar senyum kepada semua orang adalah suatu sifat yang dibanggakan setiap orang, tapi hal itu kecil kemungkinan terus berkelanjutan. Akan tetapi, setiap aku bertemu dengan dia tak jarang ia member i senyuman bahkan sekaligus menyapa padahal aku sendiri jarang terjadi untuk melakukan hal yang serupa. Disamping itu, keadaan lingkungan sosial yang menurutku sulit untuk memiliki prangi tersebut. Akan tetapi si dia adalah sosok yang pendiam mampu memilikinya. fabulous!!
Tebar senyum manisnya mencampahkan kejenuhan dan seakan-akan masalah yang kumiliki tak terasa hingga beban masalah yang kupikul terasa hilang walupun hanya sejenak. Andai kata jika setiap nafasku selalu disertai senyumannya mungkin semua masalah yang kumiliki ibarat kata bagai hujan diatas padang pasir.
Seiring berjalannya waktu, tak mampu kita untuk menentang takdir Tuhan. Jika ada pertemuan tentu pula ada perpisahan namun itulah kenyataan yang harus diterima dan hanya bisa berharap dapat melihat senyumannya kembali.   #EM1402

Pu!s!


                                             Putih abu-abu   poetrawalloebay

Aku mengenalmu
 Waktu menuju senja
  Saat putih abu-abu

    Saat rasa menjadi satu
     Saat senja putih abu-abu

       Waktu menulis sejarah
         Mentari sinari dunia
          Air alirkan rasa

            Abu-abu jadi putih
              Indahkan duniaku
               Dalam  putih abu-abu

                  Putih jadi abu-abu
                    Saat waktu pisahkan putih dan abu-abu

Selasa, 27 Maret 2012

Artikel


Salah kaprah dalam jihad
 membikin
bencana atas ummat
    Rasulullah SAW bersabda dari sahabat Mu’adz bin Jabal ra : “ aku beritahukan kepadamu tentang pokok pangkal dari semua urusan, tiangnya dan puncaknya yang tertinggi?”  sahahabat Mu’adz bin Jabal berkata: “Ya, wahai Rasulullah.”  Beliau bersabda: “Pokok pangkal dari urusan ini adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya yang tertinggi adalah jihad.” (HR. At-Tirmaidzi).
Telah sering kita dengar dari kalangan muslimin bahwa memerangi musuh adalah ‘jihad kecil’. Adapun ‘jihad besar’ adalah memerangi hawa nafsu. Banyak yang berdalil dengan sebuah riwayat, ‘kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar.” Para sahabat bertanya, “Apakah jihad besar itu?” Rasululloh saw. Menjawab: ‘Jihad terhadap hati atau jihad melawan hawa nafsu.”
Ibnul Qayyim rahimahullah membagi jihad menjadi empat bagian:
1. Jihadun Nafs (Jihad melawan diri sendiri)
2. Jihadusy Syaithan (Jihad melawan syaithan)
3. Jihadul Kuffar (Jihad melawan kaum kuffar)
4. Jihadul Munafiqin (Jihad menghadapi kaum munafiqin
Ada beberapa hal yang termasuk jihad, yakni amar ma’ruf nahi munkar. Telah disebutkan dalam sebuah hadits, “Seagung-agung jihad adalah kata-kata hak yang diucapkan di hadapan penguasa yang jahat.”
Banyak manusia memandang amalan jihad tanpa dilandasi ilmu hingga menyebabkan banyak kekeliruan dan menambah peliknya persoalan. Yang paling parah adalah munculnya penyimpangan yang demikian jauh dari pengertian sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama.
Karena itu, banyak kita saksikan belakangan ini berbagai tindakan dan aksi tertentu yang langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan kerusakan di tengah masyarakat, namun oleh para pelakunya diklaim sebagai jihad. Padahal, Islam sama sekali tidak memerintahkan amalan tersebut.
Sebagai contoh kecil, sikap suka mengkritisi atau mendiskreditkan pemerintah di depan umum. Bagi para demonstran dari kalangan hizbiyyin, sikap kritis terhadap pemerintah merupakan “menu wajib” yang harus dimiliki. Jadilah demonstrasi yang di dalamnya menjadi ajang untuk mencaci maki pemerintah sebagai bagian dari perjuangan mereka yang tidak terlewatkan. Mereka akan menganggap orang-orang yang memiliki sikap berseberangan dengan mereka sebagai penjilat ataupun kaki tangan pemerintah.
Setelah diketahui bahwa pendapat yang masyhur di kalangan ahlul ilmi tentang hukum jihad pada masa setelah kenabian adalah fardhu kifayah, berikut adalah  keadaan yang menjadikan hukum tersebut berubah menjadi fardhu ‘ain yaitu apabila bertemu dengan musuh yang sedang menyerang. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya ialah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 15-16)
Ayat ini menjelaskan tentang tidak bolehnya seseorang mundur atau berpaling dari menghadapi musuh. Karena yang demikian termasuk perkara terlarang dan tergolong dalam perkara yang membawa kepada kehancuran/ kebinasaan sehingga wajib untuk dijauhi. Sebagaimana yang disebut dalam sebuah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran atau kebinasaan.” Para shahabat bertanya: “Apakah ketujuh perkara itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, membelot/ berpaling (desersi) dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina kepada wanita yang terjaga dari perbuatan dosa, tidak tahu-menahu dengannya (yakni dengan perbuatan zina tersebut) dan (ia adalah wanita  yang) beriman kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

BEBERAPA AYAT AL-QUR’AN TENTANG JIHAD
  “Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan akhirat berperang di jalan Alloh. Barangsiapa yang berperang dijalan Alloh, lalu gugur dan memperolah kemenangan, maka kelak akan kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (An-Nisa: 78)
   "Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. (QS AN NISAA’:74)
  “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang. Dengan begitu, kamu menggetarkan musuh Alloh dan musuh kamu.” (Al-Anfal: 60).  Tapak Suci
         Surat Al-Anfal secara keseluruhannya merupakan anjuran untuk berperang dan perintah untuk tabah menghadapinya. Demikian pula terhadap penjelasan tenang berbagai hukum yang berkaitan dengan peperangan. Oleh karena itu, orang-orang mukmin generasi awal menjadikan surat Al-Anfal menjadi senandung yang selalu dilantunkan di tengah berkecambuknya peperangan.

Jumat, 04 November 2011

Cerpen Pengalaman Pribadi


Karya Radi


Tak diduga, tak disangka, tak dikira. Apa maksudnya?

Di sebuah desa yang dikenal dengan Desa Mekar Jaya itulah tempat kelahiranku.Disanalah aku sekolah,tepatnya di SD 280 yang jaraknya dari rumah ku kira-kira empat kilometer.Setiap pagi aku berangkat ke sekolah bersama teman-teman dengan jalan kaki.Meskipun kadang-kadang aku mengeluh karena jauh tapi demi masa depanku, aku harus sekolah.

Sudah hampir empat tahun aku sekolah,dua minggu lagi  ulangan untuk semester dua.Di Saat ulangan,aku tidak pernah belajar.Ketika bagi raport aku cemas karena raportku tidak diberikan oleh wali kelasku malahan orang tuaku yang  disuruh ke sekolah.Aku pulang kerumah dengan membawa tangis.

“Kenapa kamu nangis nak,mana raportmu?...”  tanya ibuku.

Aku tidak menjawab pertanyaan ibuku dan terus nangis.

“Ditanya kok diam?..”

Raportku ditahan guru...  Jawabku sambil nangis karena takut kalau dipukul.

 Ibuku kaget mendengar ucapanku,lalu ia kekebun dan mengadu kepada ayahku.Ayahku marah-marah kenapa raportku ditahan.akhirnya ayahku kesekolah untuk menemui wali kelasku.

“Selamat pagi Pak?..” sapa ayahku kepada wali kelasku.

“Ya,selamat pagi,ada apa ya pak?...”  Jawab wali kelasku.

“Begini Pak,saya ini orang tuanya Ardi,mau menanyaka raportnya kenapa tidak dibagikan”.

“Ohhh…”  jawab wali kelasku dengan santai.

“Begini Pak,berhubung kelas enam tahun ini kurang siswa terpaksa siswa kelas lima yang nilainya bagus-bagus  harus langsung naik ke kelas enam.Salah satunya adalah anak bapak.Anak bapak ini nilainya sangat besar-besar dan peringkat satu dikelas,bagaimana menurut bapak,apakah bapak setuju?...”

“Setuju!!!...” jawab ayahku.

Setelah itu ayahku pulang dengan membawa raportku dan diceritakannya kepada aku dan ibuku.

Seperti biasanya,di sekolahku jika setelah pembagian raport pasti libur.Waktu libur ini, aku mengisi liburanku dengan berkunjung ke rumah nenek ku.

“Ehmm..assalamualaikum..?”

“Wa alaikumsalam….” jawab nenek ku.

“Ohh cucu ku..apa kabar cu?...”

“Alhamdullillah baik nek…”

“Sudah bagi raport?...” tanya nenek ku.

“Sudah nek…”

“Rangking berapa ?... tanya nenek ku.

 Aku diam dan agak tersenyum.

“Naik kelas tidak?....”

“Naik nek!..” jawab dengan gugup.

“Rangking berapa?...”

“Rangkkiiiinngg…..satu….”

“Wahhh,,,Pintar cucuku”.

Aku hanya tersenyum dengan ucapan nenek ku.

“Ya sudah,masukkan barang-barangmu ke kamar!...” ucap nenek ku.

Aku pun mengambil tasku dan masuk ke kamar.Setelah satu minggu aku berlibur dirumah nenek ku,aku pulang kerumah ku.

Karena masuk sekolah masih lama setiap harinya aku ditugaskan oleh orang tuaku untuk ke kebun.Ke esok harinya,pagi-pagi aku sudah bangun dan langsung sarapan pagi.Di saat tengah makan,ibuku menyuruh aku ke kebun.

“Sekolahnya masih lama,jadi untuk sementara kamu ke kebun!..Ibu mau Bantu ayah nyadap karet?...”

“Ya bu..tapi….”

“Tapi apa?..” tanya ibuku sambil membuatkanku bekal.

“Tapi tidak lamakan bu!...”

“Tidak,kira-kira satu abadlah…”jawab ibuku dengan tersenyum-senyum.

“Ahh….ibu becandakan….?

“Hemmm..ya sudah ini bekal mu…jangan lupa hati-hati jaga kebun nya,nanti
tanamannya habis dimakan monyet…”

“Ya bu…” jawab dengan tegas.

“Tidak mandi lagi apa?...”

“Tidak,di kebun saja mandi nya…” jawab sambil berjalan.

Sesampai di pinggir kebun,aku berhenti sejenak kutatap kebunku, betapa hijau nya padi yang semalam ditimpa hujan.Dan suara burung berkicau seakan-akan aku berada di dunia yang baru.Selanjutnya aku menuju ke pondok dan meletakkan bekal yang di buat oleh ibu tadi pagi.
Matahari mulai tampak,akhirnya aku mengambil handuk dan menuju kepinggir kebun yang di sana ada sungai kecil mengalir yang airnya jernih.
Setelah mandi aku tertegun di pondok,aku bertanya kepada diriku
.
 “Mengapa harus aku yang naik kelas dari kelas empat ke kelas enam padahal masih banyak siswa yang lain nya…”

“Mungkin inilah berkah dari yang kuasa”..jawab dalam pikiranku.

Berhari-hari aku di kebun,dan sampai akhirnya waktunya untuk sekolah.Pikiranku malas untuk sekolah karena tidak punya teman dan juga pelajaranya pasti sulit,ditambah lagi jaraknya yang jauh.Tapi kapan lagi aku akan mendapatkan ilmu kalau aku selalu malas.Akhirnya aku berangkangkat ke sekolah.Di sekolah,aku bertemu bapak kepala sekolah di kelas.

“Kamu siswa kelas lima yang naik ke kelas enam itukan nak?...” tanya Pak kepala sekolah.

“Yaaa Pak” jawab dengan ragu.

“Bagus,bagus…selamat ya nak!...”

“Terima kasih Pak!....”

“Apakah kamu siap untuk belajar di kelas enam?...” tanya Pak Kepala Sekolah.

“Siiiiaap Pak..!” jawab dengan ragu.

Bapak itu tersenyum dan keluar kelas,karena sudah ada guru yang mau mengajar.Setelah itu,Pak guru yang mengajar masuk kelas dan kami memulai belajar.Mulai saat itulah,aku duduk di kelas enam dan  belajar dengan pelajaran kelas enam sampai akhirnya lulus sekolah. “Every amazing” bukan?..

“The end”











Oleh: Radi wallubi sy