Suatu waktu gue pernah
ikut pertandingan olahraga silat. Jauh sebelum waktu pertandingan, kami sudah
latihan dengan intensif. Eh pas waktunya
tiba, sikap optimis hilang seperti tertiup angin ketika lihat lawan yang
performance-nya yang bikin bilang woaw, belum lagi lihat jumlah lawan yang
lebih banyak dengan postur tubuh yang lebih super sehingga menambah menciutkan
harapan. Dengan tampilan wajah tanpa harapan, pelatih cuma bilang “Optimis dong, tunjukkan jiwa satria kalian
!!”. Hemm, kalo memandang kebelakang udah berapa banyak waktu digunakan
untuk latihan, udah berapa banyak tenaga yang dikeluarkan, dan udah berapa
banyak butiran keringat yang membasahi baju latihan. Dan yang paling
diperhitungkan udah berapa kilo cucian loundry baju latihan ?... Tapi kalo
memandang kedepan, lihatlah keadaannya seperti apa.
Didalam diri telah muncul
rasa pesimis gak akan memenangkan pertandingan tetapi teringat ucapan pelatih yang
maknanya bersikap optimis. Hemm,
akhirnya gue waktu itu memilih opsi ketiga yaitu gue bukan cari medali tapi
cari pengalaman walaupun disamping itu
harapan pelatih gue memperoleh medali. Ya udah, gue jalankan pilihan gue karena
alasan gue hidup itu pilihan, yang harus kita pilih yang terbaik tuk jalan
hidup sendiri. Dan akhirnya gue kalah dalam pertandingan ini dan gue
biasa-biasa aja dengan kekalahan ini karena gue gak terlalu optimis menang
karena gue udah tau lawan yang dihadapi seperti apa dan gue juga gak terlalu
pesimis walaupun udah termasuk kategori pesimis karena gue udah berusaha
semampunya.
Satu catatan yang bisa diambil dari pengalaman ini, kita
bersikap optimis karena kita merasa
persiapan kita telah matang bahkan terlalu matang tetapi belum termasuk ke fase
busuk namun hasil yang diperoleh tak sesuai harapan. Tentunya pasti akan down,
males mau latihan lagi, males juga mau ikut pertandingan lagi. Tapi jika
bersikap pesimis kita udah punya gambaran bahwa pasti akan kalah. Dan hasilnya
emang bener kalah. Dan kita sadar diri juga, kenapa gue bisa kalah ?.. Ya mungkin salah satu faktor penyebabnya
latihannya kurang intensif dan berarti latihannya perlu ditingkatkan lagi. Dan
dengan kekalahan ini mungkin timbul pertanyaan
kenapa gue gak bisa seperti dia ??
nah, dengan pertanyaan ini akan timbul juga tekad. Dan akhirnya latihan,
latihan, dan latihan terus ikut pertandingan.
Jadi sikap pesimis itu
gak selalu buruk kok contohnya ya dalam pengalaman ini. Coba seandainya
bersikap optimis terus kalah dan pastinya mental akan down, jadi males mau
latihan karena udah capek-capek latihan tapi hasilnya mengecewakan. Tetapi kalo
bersikap pesimis dan hasilnya kalah tentunya didalam diri akan punya tekad
suatu saat gue bisa menang dengan jalan meningkatkan latihannya.
Dan juga gak selalu
bersikap optimis itu baik. Coba seandainya dalam pengalaman ini hasil
pertandingannya menang tentunya didalam diri akan merasa bangga. Hal ini
wajar-wajar aja. Dan dengan rasa banga ini memungkinkan akan melahirkan
kesombongan karena pasti berpikir bahwa gue
paling hebat dan gue paling jago. Dengan kesombongan ini, akhirnya males
untuk latihan karena anggapan dia gak ada
yang bisa ngalahkan gue. Tapi ingat dengan yang berisikap pesimis, ia punya
tekad
untuk menang makanya ia latihan dan latihan.
Jadi, jangan takut untuk
bersikap pesimis karena orang optimis
bisa dikalahkan oleh orang pesimis dengan catatan harus punya tekad. Dan
tekad itu muncul dari niat yang ikhlas. “Man
jadda wa jadda”. Tapi jangan selalu bersikap pesimis, dimana semangat hidup lo bro ???
Dan juga jangan selalu
bersikap optimis, karena rasa optimis yang tinggi memungkinkan melahirkan
kesombongan. Dan orang yang sombong adalah teman ..... *sensor
Hemm, mungkin itu aja yang bisa gue ceritain. Semoga
bisa jadi sedikit motivasi, ya walaupun sedikit tapi gak apa-apa dibanding gak
sama sekali. Setuju !!!
dak setuju :p
BalasHapussemua itu harus diawali dengan optimis :)