Minggu, 06 April 2014

Dibalik makna pesimis dihadapan makna optimis



Suatu waktu gue pernah ikut pertandingan olahraga silat. Jauh sebelum waktu pertandingan, kami sudah latihan dengan intensif.  Eh pas waktunya tiba, sikap optimis hilang seperti tertiup angin ketika lihat lawan yang performance-nya yang bikin bilang woaw, belum lagi lihat jumlah lawan yang lebih banyak dengan postur tubuh yang lebih super sehingga menambah menciutkan harapan. Dengan tampilan wajah tanpa harapan, pelatih cuma bilang “Optimis dong, tunjukkan jiwa satria kalian !!”. Hemm, kalo memandang kebelakang udah berapa banyak waktu digunakan untuk latihan, udah berapa banyak tenaga yang dikeluarkan, dan udah berapa banyak butiran keringat yang membasahi baju latihan. Dan yang paling diperhitungkan udah berapa kilo cucian loundry baju latihan ?... Tapi kalo memandang kedepan, lihatlah keadaannya seperti apa. 
Didalam diri telah muncul rasa pesimis gak akan memenangkan pertandingan tetapi teringat ucapan pelatih yang maknanya bersikap optimis.  Hemm, akhirnya gue waktu itu memilih opsi ketiga yaitu gue bukan cari medali tapi cari pengalaman  walaupun disamping itu harapan pelatih gue memperoleh medali. Ya udah, gue jalankan pilihan gue karena alasan gue hidup itu pilihan, yang harus kita pilih yang terbaik tuk jalan hidup sendiri. Dan akhirnya gue kalah dalam pertandingan ini dan gue biasa-biasa aja dengan kekalahan ini karena gue gak terlalu optimis menang karena gue udah tau lawan yang dihadapi seperti apa dan gue juga gak terlalu pesimis walaupun udah termasuk kategori pesimis karena gue udah berusaha semampunya. 
Satu catatan yang bisa diambil dari pengalaman ini, kita bersikap  optimis karena kita merasa persiapan kita telah matang bahkan terlalu matang tetapi belum termasuk ke fase busuk namun hasil yang diperoleh tak sesuai harapan. Tentunya pasti akan down, males mau latihan lagi, males juga mau ikut pertandingan lagi. Tapi jika bersikap pesimis kita udah punya gambaran bahwa pasti akan kalah. Dan hasilnya emang bener kalah. Dan kita sadar diri juga, kenapa gue bisa kalah ?.. Ya mungkin salah satu faktor penyebabnya latihannya kurang intensif dan berarti latihannya perlu ditingkatkan lagi. Dan dengan kekalahan ini mungkin timbul pertanyaan  kenapa gue gak bisa seperti dia ?? nah, dengan pertanyaan ini akan timbul juga tekad. Dan akhirnya latihan, latihan, dan latihan terus ikut pertandingan.
Jadi sikap pesimis itu gak selalu buruk kok contohnya ya dalam pengalaman ini. Coba seandainya bersikap optimis terus kalah dan pastinya mental akan down, jadi males mau latihan karena udah capek-capek latihan tapi hasilnya mengecewakan. Tetapi kalo bersikap pesimis dan hasilnya kalah tentunya didalam diri akan punya tekad suatu saat gue bisa menang dengan jalan meningkatkan latihannya.
Dan juga gak selalu bersikap optimis itu baik. Coba seandainya dalam pengalaman ini hasil pertandingannya menang tentunya didalam diri akan merasa bangga. Hal ini wajar-wajar aja. Dan dengan rasa banga ini memungkinkan akan melahirkan kesombongan karena pasti berpikir bahwa gue paling hebat dan gue paling jago. Dengan kesombongan ini, akhirnya males untuk latihan karena anggapan dia gak ada yang bisa ngalahkan gue. Tapi ingat dengan yang berisikap pesimis, ia punya tekad untuk menang makanya ia latihan dan latihan.
Jadi, jangan takut untuk bersikap pesimis karena orang optimis bisa dikalahkan oleh orang pesimis dengan catatan harus punya tekad. Dan tekad itu muncul dari niat yang ikhlas. “Man jadda wa jadda”. Tapi jangan selalu bersikap pesimis, dimana semangat hidup lo bro ???
Dan juga jangan selalu bersikap optimis, karena rasa optimis yang tinggi memungkinkan melahirkan kesombongan. Dan orang yang sombong adalah teman ..... *sensor
Hemm, mungkin itu aja yang bisa gue ceritain. Semoga bisa jadi sedikit motivasi, ya walaupun sedikit tapi gak apa-apa dibanding gak sama sekali. Setuju !!!













1 komentar: